Sabtu, 21 Januari 2017

PENUTUPAN PENDIDIKAN DASAR MILITER GEL I 2016 0-2017 DI BANDUNG

BANDUNG-Wagub Jabar Deddy Mizwar mengatakan, Diksar Menwa Mahawarman dapat menjadi wahana pembentukan sikap, mental, kemampuan fisik, disiplin, pengetahuan dan keterampilan dasar olah keprajuritan bagi para calon anggota Menwa Mahawarman. Itu menjadi modal pembentukan karakter generasi penerus bangsa sesuai motto  "Widya Çastrena Dharma Siddha", yang berarti "Penyempurnaan Pengabdian Dengan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan".
Oleh karena itu Deddy menyatakan bahwa, Menwa dituntut agar terus mengupayakan, dan menanamkan nilai- nilai bela negara, terutama menghadapi ancaman jaman kekinian seperti, gempuran narkoba, dan paham radikal yang menyasar para pemuda.
Hal demikian dikemukakan Wagub Deddy Mizwar saat menutup Pendidikan Dasar (Diksar) Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman Gel. 1, dan Diksar Menwa ITB TA 2016/ 2017 berlangsung di Halaman Gedung Sate Bandung, Rabu (11/01/2017),

Lanjut Deddy Mizwar, Karenanya Menwa perlu menjadi Garda terdepan memerangi pelbagai ancaman tersebut, "sebab pemuda adalah kekuatan Pembangunan Bangsa, peran serta pemuda termasuk di dalamnya Mahasiswa, memang senantiasa mewarnai setiap episode perjalanan sejarah bangsa Indonesia."
Hal tersebut sambung Deddy, tiada lain karena pemuda saat itu menjunjung tinggi nilai - nilai Idealisme dan etos perjuangan yang tinggi, rela berjuang tanpa pamrih, berani berkorban, pantang menyerah, bersatu padu, dan cinta tanah air.
Deddy menuturkan, bahwa nilai- nilai tersebut tentu masih sangat relevan untuk diteladani dan diaktualisasikan oleh para emuda saat ini dan juga di masa mendatang.
"Kita patut bersyukur karena 61,8 juta orang, atau sekitar 24,5% dari total jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah pemuda usia 16- 30 tahun. sedangkan di Jawa Barat terdapat tidak kurang dari 12 juta penduduk usia 15- 30 tahun. selain itu pada tahun 2020 sampai dengan 2035 Indonesia juga diprediksi akan mendapat bonus demografi, dengan jumlah usia produktif diperkirakan mencapai 64%, sehingga dapat jadi kekuatan untuk menggerakan perekonomian nasional," tutur Deddy Mizwar.
Menyadari hal tersebut, Wagub mengungkapkan, upaya pembangunan kepemudaan memiliki peran yang sangat strategis agar tercipta pemuda- pemudi harapan bangsa yang memiliki keunggulan komparatif, maupun keunggulan kompetitif, serta memiliki visi yang besar. sehingga dapat membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar berdikari, termasuk mewujudkan Indonesia Golabal Player.


Minggu, 26 Juni 2016

ALASAN KENAPA MENWA DIDIDIK OLEH TNI

Ternyata Ini Alasan Kenapa Menwa Dididik Oleh TNI
Begitu beragam organisasi yang ada di lingkungan kampus, dari yang bersifat kejuruan, lembaga eksekutif dan legislatif kampus, hingga yang menunjang minat dan bakat mahasiswa. Salah satu organisasi mahasiswa yang nyentrik adalah Resimen Mahasiswa (Menwa). Berbeda dari organisasi kemahasiswaan lainnya yang ada di lingkungan kampus, hanya Menwa yang dididik oleh TNI. Apa alasannya?
Dijumpai beberapa waktu lalu di Markas Skomen Jaya, Komandan Skomen Jaya Raden Umar dan Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdiklat) Komando Nasional Menwa Indonesia Rasminto Ghifari menerangkan alasannya.
Mereka menuturkan, Menwa awalnya dibentuk sebagai Komponen Kompartemen Pertahanan Negara dan hanya TNI yang memiliki metode atau kurikulum yang paling baik dalam meningkatkan kedisiplinan dan penanaman nasionalisme. Dua faktor fundamental itulah yang menjadi landasan mengapa Menwa dididik oleh TNI.
“Karena awalnya Menwa dibentuk sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara, makanya kita dididik di TNI. Kenapa TNI kalau teman-teman tanya, kalau ada lembaga sosial-kemasyarakatan yang memiliki metode atau kurikulum tentang bagaimana meningkatkan kedisiplinan dan penanaman nasionalisme yang lebih baik, ya mungkin kita akan belajar dengan mereka,” papar sang Komandan Skomen Jaya.
Dirinya menambahkan, bahwa cuma lembaga TNI yang punya metode dan kurikulum yang pas untuk menanamkan nilai-nilai itu, sehingga Menwa dididik oleh militer (TNI). Selain itu, Menwa juga memang dari awal pembentukan sampai hari ini sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara.
“Kalau bicara tentang Komponen Cadangan Pertahanan Negara, fungsi pertahanan ada di TNI, makanya yang mendidik kita adalah TNI,” tambah Rasminto.
Dalam Rancang Pokok Pelajaran (RPP), Menwa dididik untuk faham Permilda (Peraturan Militer Dasar). Menwa juga dididik untuk mengusai Nikpursar (Teknik Tempur Dasar).

“Terus kita juga diajarkan tentang HTF (How to Fight), dilatih bongkar pasang senjata, termasuk diajarkan bagaimana cara menembak. Kenapa? Karena kita difungsikan sebagai Komponen Cadangan Pertahanan Negara, sehingga kita harus mampu memiliki kemampuan dasar itu. Pada saat kita dimobilisasi, misalnya negara dalam kondisi yang darurat kita sudah siap,” tandas Rasminto, mahasiswa UNJ yang saat ini sedang menempuh program Doktoral.
WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA

Selasa, 31 Mei 2016

KESADARAN BELA NEGARA DALAM MENDUKUNG KETAHANAN BANGSA

"Bela Negera bukanlah hanya kewajiban dari TNI atau kepolisian saja. Melainkan Bela Negara adalah kewajiban semua warga Negara tanpa terkecuali, karena semuanya bisa berperan dalam menjaga stabilitas Negara ini,karena Bela Negara ini adalah Rasa Cinta Tanah Air."Jika rasa itu sudah tertanam pada setiap warga Negera, maka apapun hal-hal yang bisa  merusak tatanan ketatanegaraan dan stabilitas, dengan sendirinya akan dapat teratasi, bahkan bisa saja tidak akan pernah terjadi. jika Kesadaran Bela Negara Dalam Mendukung Ketahanan Bangsa benar benar masyarakat sadar akan hari depan bangsanya Oleh sebab itu kita harus lebih mencintai apa yang dimiliki oleh Negara. Dan kepada para masyarakat daerah Kampung desa kota secara bersama-sama membentengi diri dari pengaruh asing, serta  harus bisa mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Karena, kalau bukan dari diri sendiri dan masyarakat sadar siapa lagi yang akan mengisi kemerdekaan ini. Dan perjuangan dari para pejuang akan terasa sia-sia apabila sebagai generasi muda tidak bisa meneruskan perjuangan dari para pejuang yang telah banyak berkorban harta dan nyawa dan keluarganya 
 Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. • Unsur Dasar Bela Negara 
1. Cinta Tanah Air 
2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara 
3. Yakin akan Pancasila sebagai Ideologi Negara 
4. Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negaranya 
5. Memiliki Dasar Kemampuan untuk Bela Negara 
Negara Indonesia adalah negara yang mempunyai UUD 1945 sebagai konsutitusinya, dimana system pemerintahan negara tertuang di dalamnya.
Sehingga kondisi kehidupan Bernegara merupakan pencerminan ketahanan Nasional yang didasari oleh :
- Pancasila sebagai landasan idiil.
- UUD 1945 sebagai landasan konstitusionil.
- Wawasan Kebangsaan atau Nusantara sebagai landasan visional
 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI ) 
 sebagai harga mati yang harus dipertahnkan

Senin, 18 April 2016

BRIGADE 17/TNI - TENTARA PELAJAR

WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA....!!!
SEJARAH BERDIRINYA RESIMEN MAHASISWA (MENWA) INDONESIA..).
MASA PENEGAKAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA
1. Dengan diakuinya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai hasil keputusan KMB di Den Haag, pada tanggal 27 Desember 1949, maka perang kemerdekaan, yang telah mengorbankan jiwa, raga dan penderitaan rakyat berakhir sudah, Karenanya pemerintah memandang perlu agar para pemuda pelajar dan mahasiswa yang telah ikut berjuang dalam perang kemerdekaan, dapat menentukan masa depannya, yaitu perlu diberi kesempatan untuk melanjutkan tugas pokoknya, "BELAJAR". Sehingga pada tanggal 31 Januari 1952 pemerintah melikuidasi dan melakukan demobilisasi Brigade 17/TNI-Tentara Pelajar. Para anggotanya diberi dua pilihan, terus mengabdi sebagai prajurit TNI atau melanjutkan studi.
2. Kondisi sosial ekonomi dan politik di dalam negeri sebagai akibat dari pengerahan tenaga rakyat dalam perang kemerdekaan, dianggap perlu diatur dan ditetapkan dengan undang - undang. Maka dikeluarkanlah Undang - Undang No. 29 tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. Pada dekade 1950-an, ternyata perjalanan bangsa dan negara ini mengalami banyak ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Pemberontakan demi pemberontakan terjadi di tengan - tengah perjuangan untuk membangun dirinya. Pemberontakan itu antara lain DI/TII, pemberontakan Kartosuwiryo dan sebagainya. Pemberontakan meminta banyak korban dan penderitaan rakyat banyak. Rakyat tidak bisa hidup dengan tenang, karena situasi tidak aman dan penuh kecemasan.
3. Memperhatikan kondisi semacam itu, satu tradisi lahir kembali. Para Mahasiswa terjun dalam perjuangan bersenjata untuk ikut serta mempertahankan membela NKRI bersama - sama ABRI. Sebagai realisasi pelaksanaan Undang Undang No. 29 tahun 1954, diselenggarakan wajib latih di kalangan mahasiswa dengan pilot project di Bandung pada tanggal 13 Juni 1959, yang kemudian dikenal dengan WALA 59 (Wajib Latih tahun 1959). Wala 59 merupakan batalyon inti mahasiswa yang merupakan cikal bakal Resimen Mahasiswa. Kemudian disusul Batalyon 17 Mei di Kalimantan Selatan. Bermula dari itulah, pada masa demokrasi terpimpin dengan politik konfrontasi dalam hubungan luar negeri, telah menggugah semangat patriotisme dan kebangsaan mahasiswa untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa sebagai sukarelawan.

Penyelenggaraan pendidikan dan latihan kemiliteran selanjutnya dilaksanakan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai potensi Hankamneg melalui RINWA (Resimen Induk Mahasiswa), yang selanjutnya namanya berubah menjadi MENWA.

Minggu, 13 Maret 2016

ORGANISASI BISA HIDUP BUTUH KEBERSAMAAN

HIDUP TIDAK SELAMANYA BERJALAN MULUS
* BUTUH BATU KRIKIL AGAR BERHATI HATI
* BUTUH SEMAK BERDURI AGAR WASPADA
* BUTUH PERSIMPANGAN AGAR BIJAK MEMILIH
* BUTUH PETUNJUK JALAN AGAR ADA HARAPAN MENUJU MASA DEPAN
* BUTUH MASALAH AGAR TAU KEKUATAN
* BUTUH PENGORBANAN AGAR KITA BEKERJA DENGAN KERAS
* BUTUH AIR MATA AGAR SELALU RENDAH HATI
* BUTUH CELAAN AGAR BISA MENGHARGAI
* BUTUH TERTAWA AGAR TAHU MENGUCAP SYUKUR
* BUTUH ORANG LAIN AGAR TAHU TIDAK SENDIRI
YANG MEMBUAT KITA KUAT ADALAH DOA
YANG MEMBUAT KITA MAJU ADALAH USAHA KERAS
YANG MEMBUAT KITA HANCUR ADALAH PUTUS ASA
YANG MEMBUAT KITA SEMANGAT ADLAH HARAPAN DAN IMPIAN




Minggu, 28 Februari 2016

JANGAN TANYAKAN APA YANG SAYA DAPAT TAPI TANYAKAN APA YANG SAYA DAPAT BERIKAN

APA YANG KAMU DAPAT DARI RESIMEN MAHASISWA..?
Bukan IDEALISME, tapi ... DEDIKASI & LOYALITAS
Bukan UANG, tapi ... KEHORMATAN
Bukan KELAPARAN, tapi ... KETAHANAN
Bukan NEKAD, tapi ... KEBERANIAN
Bukan KETAKUTAN, tapi ... KEPATUHAN
Bukan PERATURAN, tapi ... KEDISIPLINAN
Bukan PENGHARGAAN, tapi ... KEBANGGAAN
Bukan KELELAHAN, tapi ... KEPUASAN
Bukan SIBUK, tapi ... SEMANGAT
Bukan SENDIRI, tapi ... MANDIRI
Bukan PERINTAH, tapi ... TANGGUNG-JAWAB
Bukan PENDERITAAN, tapi ... PENDIDIKAN
Bukan BEKERJA, tapi ... BELAJAR
Bukan MELATIH, tapi ... MENDIDIK
Bukan MENGELUH, tapi ... MENGERTI
Bukan TERLATIH, tapi ... BERLATIH
Bukan TEMAN, tapi ... SAUDARA
Bukan SENIOR, tapi ... FIGUR
Bukan POSKO, tapi ... RUMAH
Bukan TENTARA, tapi ... RESIMEN MAHASISWA ...

Hak dan kewajiban. Jangan sampai kita Terfokus pada kewajiban saja tetapi tapi kita tidak menuntut Hak.ketika kita berfokus pada pengabdian pada Negara berupa Kewajiban, kita lupa menuntut hak sebagai warga negara yang tentunya akan menguntungkan salah satu pihak dan negara ini tidak pernah mau menberikan jika warga negaranya dapat menerima HAK. jangan ada lagi pembodohan kepada warga negara dengan mengeluarkan kata kekuasaan diatas segala galanya

Minggu, 21 Juni 2015

DETIK DETIK DI TUGU PROKLAMASI KORPS NASIONAL MENWA INDONESIA

Bertempat di Tugu Proklamasi Jakarta, hari minggu tgl 2 juni 2013 telah dilaksanakan upacara penyerahan dhuaja atau bendera lambang tentara pelajar kepada Korps Nasional Menwa Indonesia. Tadinya dhuaja itu akan diserahkan langsung oleh ketua  Keluarga Besar Pelajar Pejuang Kemerdekaan (PKB-PPK) yang juga sesepuh dan tokoh Jawa Barat, Bpk Solihin GP atau mang Ihin, tetapi kabarnya karena beliau agak kurang sehat, maka diwakili oleh Sekjen nya yaitu Comodor (purn) A Andoko.PKB-PPK sendiri  merupakan wadah berhimpunnya 22 rumpun Tentara Pelajar


Dimulai pada pukul 10.00 WIB dan diikuti oleh  Korps Nasioanal Menwa Indonesia dengan sekitar 300 orang pasukan dan sejumlah undangan, upacara diawali dengan laporan perwira upacara kepada inspektur Upacara, dan dilanjutkan dengan upacara yang dipimpin ole Comodor (purn)  A Andoko yang walaupun sudah sepuh tapi masih tetap gagah dan kuat memimpin upacara ditengah teriknya panas matahari.

Dalam sambutannya , Comodor (purn) A Andoko menyampaikan alasan kenapa Dhuaja ini diwariskan kepada Korps Menwa, yaitu karena para pejuang ini menilai Korps Menwa lah yang bisa meneruskan perjuangan membela NKRI dari kalangan mahasiswa dan alumni nya serta hal ini bentuk kepercayaan dan pewarisan dari para Tentara Pelajar kepada Korps Menwa untuk meneruskan dan menyebarluaskan nilai-nilai juang 45 dan nilai-nilai juang Tentara Pelajar kepada segenap Bangsa Indonesia.
“Dalam Dhuaja ini tertulis Prayuda Gavisti Patyodana yang artinya bangsa yang berjuang pantang menyerah. Ini menjadi landasan kita semua untuk tidak pernah berhenti berjuang menegakkan cita-cita kemerdekaan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945,” kata Andoko.
Pertanyaanya, lanjut Andoko, kenapa mesti diserahkan pada Korps Nasional Menwa Indonesia. Karena, lanjutnya, Korps Menwa adalah organisasi yang punya karakter dan ideologi sama dengan PKB-PPK. “Terlihat dari semboyan mereka: Widya Castrena Dharma Sidda yang maknanya penyempurnaan pengabdian melalui ilmu pengetahuan dan olah keprajuritan,” katanya.
Selanjutnya, menurut Comodor (purn) A Andoko,  “Saya lebih optimis menatap masa depan bangsa karena PKB-PPK tidak lagi sendirian dalam berjuang, kami punya mitra strategis, punya anak ideologis yang akan melanjutkan perjuangan tentara pelajar,” ujarnya.
Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan rama tamah dan foto bersama dengan seluruh peserta upacara dan para undangan serta para veteran pejuang kemerdekaan, dan merupakan kebanggan bagi para anggota Menwa yang hadir bisa berinteraksi langsung dengan para pelaku sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Budiono Kartoadiprojo yang juga Pemred Majalah GATRA , selaku Ketua Korps Menwa Indonesia mengatakan , Korps Menwa Indonesia siap menerima warisan nilai2 kejuangan tentara pelajar dan akan senantiasa menjaga, memelihara, dan meneruskan semangat bela negara tentara pelajar.


Setelah selesai acara, ketua Korps Nasional Menwa Indonesia memberika pembekalan kepada semua anggota Menwa di taman tugu proklamasi yang teduh. Pak Budiono antara lain membekali para anggota dengan kondisi saat ini dimana bangsa kita semakin dijajah secara ekonomi, antara lain dengan dikuasainya perekonomian Indonesia dengan dikuasainya Bank bank di Indonesia oleh pihak asing, untuk itulah para maasiswa khususnya para anggota Menwa harus lebih cerdas agar tidak terjajah kembali dalam bentuk lain oleh bangsa asing.


Terik mentari pada Minggu pagi, 2 Juni 2013, di kawasan di Monumen Proklamasi Jakarta, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, tidak menyurutkan semangat para mantan pejuang 45 dan sekitar 300 anggota Korps Nasional Menwa Indonesia untuk mengikuti upacara. "Hari ini adalah hari bersejarah dan penuh makna," kata Komodor (Purn) A. Andoko selaku Sekretaris Jenderal Persatuan Keluarga Besar Pelajar Pejuang Kemerdekaan (PKB-PPK).
  
PKB-PPK dipimpin sesepuh Jawa Barat, Solihin GP, merupakan wadah berhimpunnya 22 rumpun Tentara Pelajar. Pada hari itu, Mang Ihin, mewakilkan pada sekjennya, untuk menyerahkan Dhuaja Tentara Pelajar kepada Ir. Budiono Kartohadiprodjo selaku Ketua Umum Korps Nasional Menwa Indonesia (Korps Menwa).

Menurut A. Andoko, penyerahan Dhuaja itu merupakan peristiwa bersejarah karena merupakan bentuk kepercayaan dan pewarisan dari para Tentara Pelajar kepada Korps Menwa untuk meneruskan dan 
menyebarluaskan nilai-nilai juang 45 dan nilai-nilai juang Tentara Pelajar kepada segenap Bangsa Indonesia.
 "Dalam Dhuaja ini tertulis Prayuda Gavisti Patyodana yang artinya bangsa yang berjuang pantang menyerah. Ini menjadi landasan kita semua untuk tidak pernah berhenti berjuang menegakkan cita-cita kemerdekaan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945," kata Andoko.



Pertanyaanya, lanjut Andoko, kenapa mesti diserahkan pada Korps Nasional Menwa Indonesia. Karena, lanjutnya, Korps Menwa adalah organisasi yang punya karakter dan ideologi sama dengan PKB-PPK. "Terlihat dari semboyan mereka: Widya Castrena Dharma Sidda yang maknanya penyempurnaan pengabdian melalui ilmu pengetahuan dan olah keprajuritan," katanya.


"Ini adalah common denominator antara kedua organisasi yaitu: pengabdian, Ilmu Pengetahuan, dan Ilmu Keprajuritan, yang merupakan tiga butir strategis untuk berjuang membebaskan kita dari berbagai bentuk penjajahan baru dalam era globalisasi ini," kata Andoko. 



Dengan penyerahan ini, "Saya lebih optimis menatap masa depan bangsa karena PKB-PPK tidak lagi sendirian dalam berjuang, kami punya mitra strategis, punya anak ideologis yang akan melanjutkan perjuangan tentara pelajar," ujarnya.
Budiono Kartohadiprodjo selaku Ketua Umum Korps Nasional Menwa Indonesia (Korps Menwa) menyambut dengan gembira warisan dari para pejuang dan pendiri bangsa tersebut. Usai menerima Panji Dhuaja tersebut, Budiono membacakan ikrar Korps Menwa untuk menyambut amanat tersebut.
"Kami siap sedia sebagai penerima dan pewaris nilai nilai kejuangan tentara pelajar," kata Budiono. Korps Menwa akan senantiasa menjaga, memelihara, dan meneruskan semangat bela negara tentara pelajar.

"Sebagai pewaris dan penerus nilai juang 1945, kami siap mewujudkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Budiono. (DH)





























Korps Nasional Menwa Indonesia usai menerima Dhuaja Tentara Pelajar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu, 2 Juni 2013

dok Gatranews- dokAsmuransyah